Kawasan Jalan Soeprapto pada sore itu sangat ramai. Terlihat angkutan umum berjejer di jalanan mencari penumpang. Ada yang berhenti di depan Telkom Simpang Lima, Queen Foto, toko Enggano hanya untuk menunggu penumpang yang ingin pulang atau pegi ketempat kerja.
Peluh keringat yang keluar dari badan ini tidak membuat aku lelah untuk melaksanakan kewajiban sholat ashar. Suara adzan mulai berkumandang ditengah hiruk pikuk keramaian aktivitas manusia. Segera ku menuju Masjid Muhammdiyah Soeprapto untuk memenuhi panggilan Allah karena Allah telah menyiapkan hidangan yang lezat bagi ruhani yang kelaparan ini.
Teringat sebuah pesan yang aku kirimkan kepada Ustadz Arifin Ilham, “Ustadz, bolehkah ana bertemu sama ustadz di Bandara Fatmawati Bengkulu? Karena ana ingin sekali bertemu dan berjumpa sama ustadz”. Beliau pun membalas pesan saya, ”Insya Allah….hari rabu jam 18.00, kita akan bertemu”.
Aku mengetahui bahwa ustadz Arifin Ilham mau ke Bengkulu karena beliau menulis status di Facebook akan mengisi Zikir Akbar di Manna Kabupaten Bengkulu Selatan pada tanggal 03 Maret 2011.
Jam menunjukkan pukul 16.20, dari kawasan Soeprapto aku mencari angkot ke terminal Panorama. Di terminal Panorama ini banyak angkot warna putih karena angkot ini jurusannya ke Bandara Fatmawati. Setelah berhenti di dekat Bandara Fatmawati aku segera turun dari angkot dan membayar ongkos sebesar Rp. 2.000,-. Aku menulis pesan kepada ustadz Arifin Ilham akan datang ke bandara jam 17.00
Dua jam menunggu, pesawat dari Jakarta-Bengkulu belum juga sampai. Jika dilihat di monitor TV bandara, pesawat dari Jakarta akan sampai pada pukul 19.15. Sekarang baru pukul 19.00, ku sms Voety, “Lima belas menit lagi pesawat akan sampai”.
Voety adalah adek tingkat ku di kampus walau beda fakultas dan jurusan. Kalau lihat di FB Voety, ada tulisan Akhwat Lemper (Lembut tetapi Perkasa) artinya jika cowok atau ikhwan yang macam-macam sama beliau, bisa-bisa nanti di ajak BELAGO….v^^v
Pukul 19.17 pesawat dari Jakarta mendarat dengan selamat. Aku menunggu di tempat kedatangan. Banyak orang ingin menjemput keluarganya yang baru pulang dari Jakarta. Ada ibu menggendong anak menunggu sang ayah pulang, istri yang kangen kepada suaminya dan nenek ingin melihat cucu.
Terlihat penumpang keluar dari dalam pesawat. Aku memperhatikan siapa saja yang keluar. Dari jauh ada rombongan yang berpeci warna putih yang berjalan keluar tetapi tidak ke ruang kedatangan seperti penumpang lainnya. Mereka menuju ke arah gedung sebelah kanan. Segera ku bergegas ketempat gedung itu. Mobil-mobil sudah berjajar dihalaman parkir.
Aku menanyakan kepada petugas disana, “Maaf pak, apakah ustadz Arifin Ilham akan datang ke tempat ini”, tanyaku dengan muka agak serius. “Nggak tahu saya mas, coba tanya sama orang yang disana”. Bapak itu menunjukkan kepada saya, orang yang berdiri di depan pintu
Segera ku hampiri bapak yang berpeci putih itu. Saat aku mau naek anak tangga. Keluar lah orang yang selama ini ku nanti-nanti. Baju koko warna putih, kopiah warna putih, memakai sarung warna coklat dan selalu memakai jam di tangan kanan. Beliau adalah Ustadz Muhammad Arifin Ilham, terlihat dari air wajah beliau sifat tawadhu, mata yang penuh rahmat, senyum yang khas dan suara serak-serak basah yang bisa membuat kita menangis apabila mendengar tausiyah beliau.
“Assalamualaikum, ustadz ini Joni yang kemaren hubungi ustadz lewat sms”, kataku dengan perasaan grogi dan cemas karena baru pertama kali ini aku langsung bertemu sama ustadz Arifin.
“Wa’alaikumsalam, akhi sudah lama menunggu ustadz disini ya”, dengan perkataan halus dam lembut, beliau berbicara sama aku.
“Ya ustadz…..”
“Dengan siapa akhi kesini?”
“Sendiri tadz…”
“Kalau begitu ikut ustadz makan malam bersama”
Beliau mengajak saya makan malam bersama rombongan. Ya Allah, begitu banyak Engkau memberikan pertolongan kepada hambaMu ini tetapi kami jarang mensyukuri nikmat yang Engkau berikan selama ini.
Ada perasaan senang campur bahagia karena bisa berjumpa sama ustadz Arifin. Beliau dari Jakarta bersama rombongan yaitu Ustadz Ahmad dan Bang Erik (Bang Erik ini nggak mau dipanggil ustadz). Ustadz Ahmad adalah sahabat ustadz Arifin Ilham sedangkan bang Erik adalah yang mengurusi bagian IT di Az-Zikra.
Perjalanan dari Bandara Fatmawati menuju Rumah Makan Tanjung Karang memakan waktu ± 15 menit. Saya naik mobil yang ke-3 sedangkan ustadz Arifin dan rombongan naik mobil pertama dan ke-2. Ustadz Arifin dijemput oleh rombongan pegawai pemerintahan Kabupaten Bengkulu selatan sekitar 8 orang.
Rumah makan Tanjung Karang merupakan rumah makan yang teletak di kawasan Tanah Patah. Menu yang disediakan beraneka ragam, ada bebek panggang, ayam, ikan, daging dan masih banyak lagi. Ownernya adalah pak Dedi, beliau adalah tetangga saya yang dulu pernah tinggal di dekat rumah saya. Beliau merintis usaha ini sejak lama. Seingat saya, beliau dulu membuka warung nasi uduk di dekat Bank Indonesia Kampung Cina. Setelah usahanya sukses, beliau membeli rumah di Tanah Patah dan membuka warung makan yang lebih besar lagi.
Jam menunjukkan pukul 19.40, adzan isya sudah berkumandang. Mobil terus melaju menuju rumah makan. Setelah sampai, aku keluar dari mobil. Terlihat usradz Arifin masih di dalam mobil sedang mengobrol sama ustadz Ahmad dan bang Erik. Ada seorang pegawai pemerintah yang selalu menemani ustadz Arifin. Cirri-cirinya berkumis agak tebal, peci putih, baju koko warna putih dan memakai celana jeans warna coklat. Nampaknya beliau seorang pejabat yang mempunyai kedudukan di pemerintahan.
“Apakah kamu wartawan?”, tanya beliau kepada ku.
“Saya bukan wartawan pak, saya hanya ingin bertemu sama ustadz Arifin. Saya sudah menghubungi beliau lewat sms”.
Dengan muka agak marah beliau mengatakan, “ Maaf, ustadz Arifin tidak boleh di ganggu”.
Memang sih saya bukan apa-apa. Saya tidak mempunyai kedudukan, saya hanyalah hamba Allah yang ingin bertemu sama orang-orang sholeh. Allah tidak memandang pangkat, jabatan, harta atau kedudukan. Allah hanya memandang hambaNya dari kacamata keimanan. Walau orang itu orang miskin, melarat hidupnya tetapi kalau setiap malam melakukan qiyamul lail maka Allah akan naekkan derajat disisiNya.
Setelah keluar dari mobil, ustadz Arifin segera masuk ke rumah makan.
“Ayo akhi…kita makan bersama-sama di dalam”, dengan senyumanya yang khas yang keluar dari hati yang ikhlas.
“Ya ustadz….”, jawab ku dengan agak malu
Setelah berada di dalam, hidangan pun sudah disediakan. Ada ikan gurami, ikan patin, bebek goreng, pecel lele dan lain-lain. Kami duduk ditempat lesehan. Beliau makan mengikuti sunnah nabi. Kaki kanan ditegakkan dan sedangkan kaki kiri dilipatkan,
“Bismillahirrahmanirrahim……...”
Kami pun makan bersama. Sebelah kiri ku ada ustadz Ahmad, sebelah kanan ku ada bang Erik dan di depan ku ada ustadz Arifin bersama pejabat. Ustadz Arifin suka sekali sama makanan pecel lele, saya membaca buku Suamiku Menangis yang ditulis oleh istri beliau. Didalam buku itu diceritakan bahwa ustadz Arifin suka sama bubur ayam dan pecel lele.
Setelah itu bang Erik bertanya kepadaku, ”Abang kuliah dimana?”, bang Erik memanggil saya dengan sebutan “Abang” padahal beliau lebih tua dari aku 9 tahun.
“Bang, jangan memanggil ana dengan sebutan Abang. Panggil Joni aja ya bang”, jawab ku dengan malu-malu.
“Ana kuliah di Universitas Bengkulu, ngambil jurusan Pertanian, kalau abang sendiri kerja dimana”, tanya ku
“Saya kerja sama ustadz Arifin, bang…!! Saya dulu ikut jamaah zikir ustadz Arifin kemudian beliau mengajak saya untuk membantu beliau di bagian IT.”, dengan nada sopan dan lembut beliau menjawab.
Bang Erik ini adalah seorang atlet bulutangkis. Kalau saya lihat di FB beliau, beliau hobi maen bulutangkis. Bang Erik ini memiliki jenggot yang panjang dan tebal dan kumisnya nggak ada karena mengikuti sunnah rasul.
“Kok badan abang kurus. Apa abang sakit?”, tanya beliau
Dengan suara agak berat saya menjawab, “Memang dari dulu badan ana kayak ini bang…kurus!! Dan sekarang ana lagi sakit…………..”
Kemudian bang Erik memesan minuman mineral, “Coba abang minta di doakan sama ustadz Arifin. Mudah-mudahan Allah menyembukan sakit abang”.
“Ya bang…”, jawab ku
Setelah selesai makan, ustadz Arifin membacakan doa pada air mineral tersebut. Orang-orang yang dekat sama Allah, biasanya doanya mustajab. Dan Rasulullah sendiri mengajarkan kepada kita untuk membacakan surah Al Fatihah pada segelas air untuk orang yang sakit.
Selesai membacakan doa, kami segera melakukan sholat isya berjamaah. Karena rombongan ustadz Arifin melakukan perjalanan jauh atau safar, maka sholatnya di jamak dan qasar kan. Sholat isya empat rakaat menjadi dua rakaat dan sholat magrhib tetap tiga rakaat.
Ustadz Arifin yang menjadi imam sedangkan aku, ustadz Ahmad dan bang Erik menjadi makmum. Aku bertanya dalam hati, “Kemana para pejabat dan pegawai yang menjemput ustadz Arifin ya, kok nggak sholat padahal mereka yang menjemput ustadz di bandara.” Aku tidak ingin berburuk sangka kepada orang, aku mendoakan setelah mengikuti zikir akbar di Manna, para pejabat dan pegawai pemerintahan setempat bisa menjadi pribadi yang lebih baek lagi termasuk saya, mencoba untuk memperbaeki diri.
Setelah sholat, ustadz Arifin nampaknya mau bergegas berangkat karena di Manna banyak yang menunggu beliau.
“Ustadz, sebelum berangkat bolekah ana foto berdua dengan ustadz?”, tanya ku dengan perasaan harap-harap cemas.
Dengan senyumannya beliau menjawab, “Silakan akhi, tetapi agak cepat ya”
“Ya ustadz….”
Aku keluarkan HP ku dari kantong celana, kemudian aku minta tolong sama ustadz Ahmad untuk memfotokan kami berdua.
Alhamdulillah, akhirnya ada juga kenang-kenangan dari beliau yaitu foto saya sama ustadz Arifin Ilham walau hasilnya kurang memuaskan karena pencahayaan kamera HP saya tidak terlalu bagus untuk kondisi malam hari.
Rombongan pun bergegas keluar dari rumah makan menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Aku sendiri hanya bisa melihat ustadz Arifin dari luar saat rombongan masuk ke dalam mobil dan siap-siap menuju Manna. Beliau berbicara kepada saya waktu di bandara, “Salam sama keluarga akhi ya”. Itulah pesan beliau kepada saya.
Setiap orang mempunyai mimpi masing-masing. Ada yang ingin sukses, bisa pergi ke luar negeri atau menaekkan haji orang tua. Mimpi saya salah satu yang sudah terwujud adalah bisa bertemu Sang Murobbi Ayahanda Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Walau dibutuhkan waktu agak lama dan proses yang sangat panjang tetapi akhirnya bisa terwujud juga.
MAN JADDA WA JADAH……..Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil