Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch

Senin, 20 Juni 2011

“Menyelamatkan Kehilangan”



 Berulang setiap tahunnya, selalu saja ada yang hilang dan telewatkan. Entahlah..mungkin karena “kebodohan”ku, yang hilang itu terkadang menghilang begitu saja.

Desah kekhawatiran memang mengganggu, dan terkadang menggerus asa. Seperti halnya cita yang kadang tak sesuai ingin kita. Namun, itu semua memberikan rasa. Ya.. Cita rasa! Bukan begitu?
“engkau ini anak kemarin sore!”
“luh masih bau kencur! Ingusan!!!”
“anak bawang!!”

Ahhh..goblok! terkadang aku rindu juga dengan hardikan itu. Seorang kawan pernah berujar, “enak amat yak jadi kaya mereka (baca: anak SD), idupnya kaga ada beban..kaga mikirin apa-apaan. Sulit banget emang idup dah”.

Mau tak mau, suka tak suka, kita tumbuh tua! Seperti yang orang bijak katakan, “dewasa itu pilihan, dan menjadi tua itu pasti”
Aiihh.,,nikmat mungkin yaa menjadi orang tua yang kekanak-kanakan. ngluyur ke sana..pleserin ke sini.
 Dan yang hilang itu terus berulang, setiap tahunnya? Ya!

Sudah 24 kali aku kehilangannya, aku cari ke kolong meja, ke kolong kursi, di balik bantal, di selipan dompet, di selipan buku, di bawah kasur, di kantong jaket, di dalam kaos kaki, di alas sepatu (mungkin terinjak), dan di dapur. Tapi tetap tak jua kumenemukannya.
Apakah kau tahu kemana ia pergi? Tolong beritahu padaku kawan, untuk sekali ini saja, kemanakah ia pergi?!!

Pantaskah aku meratapi yang telah hilang?
“ahhh..engkau terlalu berlebihan kawan, yang hilang biarlah menghilang, kini kau hanya harus menjaga apa yang ada sekarang. Walaupun nantinya akan hilang jua, namun, setidaknya telah kau manfaatkan. Dan yang telah hilang, biarlah menjadi pelajaran..” kata sorang teman khayalan.

Katanya, orang seusiaku ini adalah harapan. Harapan bagi semua orang yang mengharapkan pengharapan dariNya. Katanya, orang seusiaku itu dapat mengubah muramnya muka dunia. Katanya, orang seusiaku itu orang yang paling berjaya……..

Sangkanya, semua orang seusiaku itu sama. Namun, bolehkah aku tak sesuai dengan sangkaannya?
Bolehkah aku memilih menjadi salah satu golongan 7 pemuda yang akan diberi naunganNya??

Sialnya, aku selalu teringat keluargaku.
Apakah aku bisa menjaganya dari siksa api neraka?
Nyatanya, aku bukalah seorang hafizh, bukan pula seorang syahid, atau shiddiqien, atau orang soleh yang nantinya akan dapat menolong di akhirat kelak.
“Tak inginkah kau memberikan makhkota kepada kedua orangtuamu di surga?”
“Tak inginkah kau di akhirat kelak tanpa melalui hisab dan dapat meberikan syafaat?”
“Tak inginkah kau menjadi orang yang benar dan selalu istiqomah di jalan kebenaran yang akan mengantarkanmu ke jannahNya?”
“Tak inginkah kau menjadi penyeru kebaikan kepada orang lain agar mereka pun dapat bersama di surga??”
Kutanyakan pertanyaan itu kepada qolbuku. (dan juga qolbumu)

***

Izroil pun tinggal menunggu aba-aba. Jadi, maka jadilah. Semua mudah dalam kusaNya.
Kawan, bolehkah kutetap menjaga tali ini agar tak terputus? Dan sekiranya engkau sudi, maukah engkau terus memgang erat tali yang telah sama-sama kita pegang?

Bukankah Ia telah berjanji akan memanjangkan umur dan melapangkan rezeki hambanya bila terus menjaga tali itu dan terus menymbungnya??

Semoga dengan sebab tali ini kita bisa berkumpul di taman firdaus dan telaga kautsar kelak.
Ya..tali itu, silaturahim.

***

Dapatkah aku menyelamatkan yang telah hilang itu?
Semalam, saat  setengah bulan bersinar terang, telepon genggam bergetar tanda pesan singkat datang dan pesan di wall FB semakin banyak, banyak yang menuliskan:
“selamat ulang tahun”
“selamat milad”
“ada yang tambah tua ni..makan-makan uey”
“kapan nikahnya..??” dsb..dsb..

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, “Gila! Mereka memberikan selamat atas hilangnya umurku! Ahh..tampaknya mereka turut bahagia dengan kata “selamat itu”. Tak tahukah bahwa aku takut dan khawatir karena kehilangannya??” gumamku dalam hati saat membacanya.

Namun, setelah itu aku tersenyum karena ada pula yang mendoakanku
“yaa Allah pajangkan usia saudaraku ini, murahkan rizkinya, sehatkan jasmani dan ruhaninya ,kuatkan imannya dan kabulkanlah doa dan harapannya, serta jadikanlah beliau hambamu yg istiqamah dijalanMU. aamiin. met milad akhi, tiada hadiah yg paling indah kecuali doa.. wassalam” terimakasih kepada akhi Husein atas pesannya di FB, Jazakumullah khairan katsir.

***

aku tak ingin mati di semeru seperti soe hok gie..aku tak ingin mati seperti pahlawan reformasi yang mati karena timahpanas pemimpin tirani.
aku ingin mati bersama saudaraku yang ikhlas membela islam sebagai agamanya..di bumi para syuhada..(aminnn)
Yaa Allah, aku sangat yakin bawa Engaku Maha Pengasih dan Penyayang, sesungguhnya Engkau tak akan mengadzab hambaMu melainkan yang telah melampaui batas.
Aku tau murkaMu saat kau membenci suatu perbuatan. Aku tak ingin mengatakan apa yang tidak aku kerjakan. Dengan menunduk terhina menghadapMu, aku bermunajat kepadaMu..

“Ya Allah, kabulkanlah apa yang menurutMu itu yang terbaik untukku, karena bisa jadi yang kubenci itu amat baik untukku, dan yang kusukai itu padahal buruk bagiku..berikanlah dan tujukan jalan yang terbaik bagi hambaMu yang nista ini. Jangan jadikan diriku orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakannya. Maka, tujukanlah jalan menuju jannahMu. Goreskanlah skenario terindah dalam hidupku.sungguh, Engkaulah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Hanya kepadMul-ah kami memohon dan hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan. Aamiiiinnn”

Seiring dengan 24 kali aku kehilangan umurku, semakin siap pula izroil menjalankan tugasnya. Padahal aku masih belum siap saja, karena mungkin aku kurang bersiap siaga. Apa yang bisa kutinggalkan bila mungkin sehabis mempublish tulisan ini. Ruhku tercabut dari raganya.

Ilmuku yang bermanfaatkah? Sepertinya sangat sedikit sekali aku memberikan ilmu pada yang lain.
Amal jariahkah??? Sepertinya lebih banyak dosa jariah yang kuberikan.
Doa anak yang solehkah?? Sayangnya aku belum mempunyai anak.
Sungguh, semakin ia menghilang dan semakin berkurangnya. Aku semakin takut dan khawatir.
Bolehkan kubertanya padamu kawan, untuk yang terakhir kalinya?
Maukah engkau membimbingku ke jalan yang benar?
Maukah engkau mengingatkanku agar tetap istiqomah?
Maukah engaku menjadi penyemangat di rendahnya imanku?
Maukah engkau menemaniku dalam keadaan lapang dan sempit?

Hanya itu mungkin yang bisa kutanyakan, karena mungkin engkau terlalu jengah menjawab pertanyaanku sedari tadi.
Pintaku.
Semoga kau tak pernah jengah berkawan dengan orang sepertiku.
Maukah???



Warnet Maharani, 12 Juni 2011
Di sudut yang sempit dan terkucilkan
Teruntuk Sahabatku……

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan di komentar ya....

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons