Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch

Minggu, 26 Juni 2011

Uzlah atau Tafarrud

Secara bahasa, "uzlah atau tafarrud" berarti "penjauhan" atau "pengasingan diri". Dalam kitab Lisanul-Arab, azala syai'a berarti menjauhkan sesuatu". Sedangkan ayat al-Qur'an yang menyebutkan mengenai uzlah ini antara lain.
إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ
"Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengarkan Al-Qur'an itu." (QS. Asy-Syu'ara [26] : 212)
Maksdunya, ketika mereka (para jin) di lempar dengan bintang-bintang, sehingga pendengaran mereka terhalang. Hal itu sesuai dengan firman-Nya yang lain:
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَن يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا
"Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki berapa tempat di langit itu untuk mendengarkan (berita-beritanya). Akan tetapi, sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panh api yag mengintai (untuk membakarnya)." (QS. Al-Jin [72] : 9)
Sedangkan menurut istilah, "uzlah atau tafarrud" ialah tindakan seseorang yang lebih mengutamakan hidup menyendiri daripada hidup bersama dengan orang lain. Jadi, jika ada seorang aktivis yang merasa cukup dengan mengatakan Islam pada diri sendiri saja, tanpa peduli dengan keadaan orang lain dan tanpa melihat keadaan mereka yang tengah terjerumus dalam lembah kebinasaan dan kehancuran, maka dia termasuk orang yang terkena penyakit "uzlah dan tafarrud" ini.



Contoh lainnya, jika seorang aktivis Islam hanya melaksanakan misi dakwahnya secara fardiyah saja (individual) dan jauh dari sikap ta'awun (saling tolong menolong) dengan para aktivis lain dalam melaksanakan misi dakwahnya , maka dia pun dapat digolongkan telah terhinggapi penyakit "uzlah dan tafarrud".
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Uzlah
Beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya penyakit ini antara lain dapat dikelompokkan antara lain.
Salah Menafsirkan Seruan Uzlah
Di dalam ajaran Islam memang ada beberapa nash yang menganjurkan kita ber-uzlah. Diantara nash-nash yang memuji dan menganjurkan sikap "uzlah" tersebut antara lain hadist Nabi Shallahu alaihi wassalam yang berbunyi :
"Akan datang suatu saat di mana sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang dibawa yang ke puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan. Ia menghindar dari fitnah dengan membawa agamanya." (HR. Bukhari)
Dalam suatu kesempatan Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabatnya, "Siapakah manusia yang paling utama, ya Rasulullah?". Beliau SAW menjawab, "Seseorang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya". Shahabat itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?". Rasulullah SAW menjawab, "Seorang mukmin yang tinggal di salah satu tempat di gunung. Ia beribadah kepada Allah Tuhannya dan meninggalkan manusia dari kejahatan mereka". (HR. Muslim)
Sabda beliau yang lain berbunyi, "Di antara penghidupan yang paling baik bagi manusia adalah seorang yang memegang tali kudanya di jalan Allah, kemudian ia berpacu diatas punggung kudanya. Setiap kali ia mendengar sesuatu yang menakutkan dan mengejutkan, ia segera melesat menuju arah suara tersebut untuk dapat berperang dan mati menjadi taruhannya. Atau seseorang bersama hartanya yang berada di salah satu tempat yang tinggi atau pada sebuah lembah. Di tempat itu ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan beribadah kepada Tuhannya hingga ajal menjemputnya sedang ia dalam keadaan baik." (HR. Muslim)
Meskipun demikian, cukup banyak nash-nash syariat yang lain, yang menganjurkan umat Islam, agar menjalani kehidupan dan beribadah kepada-Nya dalam naungan jamaah. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"...Dan hendaklah kalian tolong menolong dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalilan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah [5] : 2)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
"...Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (agama) dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali-Imran [3] : 103)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ
"Sesungguhnya Allah suka terhadap orang-orang yang berperang di jalan Allah, seolah-olah mereka itu adalah suatu bangunan yang kokoh." (QS. Ash-Shaf [61] : 4)
Selain itu, Rasulullah shallahu alaihi was sallam juga bersabda, "Jauhilah bercerai-berai, dan hendaklah kalian berjamaah (berkelompok). Sesungguhnya setan akan menyertai orang yang sendirian dan akan menjauh dari dua orang. Barangsiapa yang ingin memasuki taman surga, maka hendaklah ia berjamaah." (HR. Tirmidzi)
Dalam kesempatan lain, beliau SAW juga bersabda, "Allah bersama jamaah." (HR. Tirmidzi)
Sabdanya lagi, "...Aku menyuruh kalian kepada lima perkara dan Allah menyuruhku pula untuk demikian, yaitu berjamaah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Sesungguhnya barangsiapa yagn keluar dari jamaah satu jengkal ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali meluruskan sikapnya. Mendengar ucapan beliau SAW para shahabat bertanya, "Sekalipun ia melakukan shalat dan berpuasa wahai Rasulullah?" Rasulullah shallahu alaihi wassalam menjawab, "Ya, sekalipun ia mendirikan shalat dan berpuasa serta mengaku bahwa dirinya adalah seorang muslim". (HR. Ahmad)
Dari penjelasan diatas jelaslah jika seorang aktivis berpegang teguh hanya pada nash-nash syar'iyah yang pertama, yaitu menganjurkan sikap 'uzlah karena kejahilannya, atau berpura-pura jahil akan hubungan nash-nash tersebut dengan nash-nash yagn menganjurkan sikap berinteraksi dngan jamaah dan hidup di tengah pemeliharaannya, maka tidak diragukan lagi ia akan terkena penyakit 'uzlah atau tafarrud.

Senin, 20 Juni 2011

“Menyelamatkan Kehilangan”



 Berulang setiap tahunnya, selalu saja ada yang hilang dan telewatkan. Entahlah..mungkin karena “kebodohan”ku, yang hilang itu terkadang menghilang begitu saja.

Desah kekhawatiran memang mengganggu, dan terkadang menggerus asa. Seperti halnya cita yang kadang tak sesuai ingin kita. Namun, itu semua memberikan rasa. Ya.. Cita rasa! Bukan begitu?
“engkau ini anak kemarin sore!”
“luh masih bau kencur! Ingusan!!!”
“anak bawang!!”

Ahhh..goblok! terkadang aku rindu juga dengan hardikan itu. Seorang kawan pernah berujar, “enak amat yak jadi kaya mereka (baca: anak SD), idupnya kaga ada beban..kaga mikirin apa-apaan. Sulit banget emang idup dah”.

Mau tak mau, suka tak suka, kita tumbuh tua! Seperti yang orang bijak katakan, “dewasa itu pilihan, dan menjadi tua itu pasti”
Aiihh.,,nikmat mungkin yaa menjadi orang tua yang kekanak-kanakan. ngluyur ke sana..pleserin ke sini.
 Dan yang hilang itu terus berulang, setiap tahunnya? Ya!

Sudah 24 kali aku kehilangannya, aku cari ke kolong meja, ke kolong kursi, di balik bantal, di selipan dompet, di selipan buku, di bawah kasur, di kantong jaket, di dalam kaos kaki, di alas sepatu (mungkin terinjak), dan di dapur. Tapi tetap tak jua kumenemukannya.
Apakah kau tahu kemana ia pergi? Tolong beritahu padaku kawan, untuk sekali ini saja, kemanakah ia pergi?!!

Pantaskah aku meratapi yang telah hilang?
“ahhh..engkau terlalu berlebihan kawan, yang hilang biarlah menghilang, kini kau hanya harus menjaga apa yang ada sekarang. Walaupun nantinya akan hilang jua, namun, setidaknya telah kau manfaatkan. Dan yang telah hilang, biarlah menjadi pelajaran..” kata sorang teman khayalan.

Katanya, orang seusiaku ini adalah harapan. Harapan bagi semua orang yang mengharapkan pengharapan dariNya. Katanya, orang seusiaku itu dapat mengubah muramnya muka dunia. Katanya, orang seusiaku itu orang yang paling berjaya……..

Sangkanya, semua orang seusiaku itu sama. Namun, bolehkah aku tak sesuai dengan sangkaannya?
Bolehkah aku memilih menjadi salah satu golongan 7 pemuda yang akan diberi naunganNya??

Sialnya, aku selalu teringat keluargaku.
Apakah aku bisa menjaganya dari siksa api neraka?
Nyatanya, aku bukalah seorang hafizh, bukan pula seorang syahid, atau shiddiqien, atau orang soleh yang nantinya akan dapat menolong di akhirat kelak.
“Tak inginkah kau memberikan makhkota kepada kedua orangtuamu di surga?”
“Tak inginkah kau di akhirat kelak tanpa melalui hisab dan dapat meberikan syafaat?”
“Tak inginkah kau menjadi orang yang benar dan selalu istiqomah di jalan kebenaran yang akan mengantarkanmu ke jannahNya?”
“Tak inginkah kau menjadi penyeru kebaikan kepada orang lain agar mereka pun dapat bersama di surga??”
Kutanyakan pertanyaan itu kepada qolbuku. (dan juga qolbumu)

***

Izroil pun tinggal menunggu aba-aba. Jadi, maka jadilah. Semua mudah dalam kusaNya.
Kawan, bolehkah kutetap menjaga tali ini agar tak terputus? Dan sekiranya engkau sudi, maukah engkau terus memgang erat tali yang telah sama-sama kita pegang?

Bukankah Ia telah berjanji akan memanjangkan umur dan melapangkan rezeki hambanya bila terus menjaga tali itu dan terus menymbungnya??

Semoga dengan sebab tali ini kita bisa berkumpul di taman firdaus dan telaga kautsar kelak.
Ya..tali itu, silaturahim.

***

Dapatkah aku menyelamatkan yang telah hilang itu?
Semalam, saat  setengah bulan bersinar terang, telepon genggam bergetar tanda pesan singkat datang dan pesan di wall FB semakin banyak, banyak yang menuliskan:
“selamat ulang tahun”
“selamat milad”
“ada yang tambah tua ni..makan-makan uey”
“kapan nikahnya..??” dsb..dsb..

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, “Gila! Mereka memberikan selamat atas hilangnya umurku! Ahh..tampaknya mereka turut bahagia dengan kata “selamat itu”. Tak tahukah bahwa aku takut dan khawatir karena kehilangannya??” gumamku dalam hati saat membacanya.

Namun, setelah itu aku tersenyum karena ada pula yang mendoakanku
“yaa Allah pajangkan usia saudaraku ini, murahkan rizkinya, sehatkan jasmani dan ruhaninya ,kuatkan imannya dan kabulkanlah doa dan harapannya, serta jadikanlah beliau hambamu yg istiqamah dijalanMU. aamiin. met milad akhi, tiada hadiah yg paling indah kecuali doa.. wassalam” terimakasih kepada akhi Husein atas pesannya di FB, Jazakumullah khairan katsir.

***

aku tak ingin mati di semeru seperti soe hok gie..aku tak ingin mati seperti pahlawan reformasi yang mati karena timahpanas pemimpin tirani.
aku ingin mati bersama saudaraku yang ikhlas membela islam sebagai agamanya..di bumi para syuhada..(aminnn)
Yaa Allah, aku sangat yakin bawa Engaku Maha Pengasih dan Penyayang, sesungguhnya Engkau tak akan mengadzab hambaMu melainkan yang telah melampaui batas.
Aku tau murkaMu saat kau membenci suatu perbuatan. Aku tak ingin mengatakan apa yang tidak aku kerjakan. Dengan menunduk terhina menghadapMu, aku bermunajat kepadaMu..

“Ya Allah, kabulkanlah apa yang menurutMu itu yang terbaik untukku, karena bisa jadi yang kubenci itu amat baik untukku, dan yang kusukai itu padahal buruk bagiku..berikanlah dan tujukan jalan yang terbaik bagi hambaMu yang nista ini. Jangan jadikan diriku orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakannya. Maka, tujukanlah jalan menuju jannahMu. Goreskanlah skenario terindah dalam hidupku.sungguh, Engkaulah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Hanya kepadMul-ah kami memohon dan hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan. Aamiiiinnn”

Seiring dengan 24 kali aku kehilangan umurku, semakin siap pula izroil menjalankan tugasnya. Padahal aku masih belum siap saja, karena mungkin aku kurang bersiap siaga. Apa yang bisa kutinggalkan bila mungkin sehabis mempublish tulisan ini. Ruhku tercabut dari raganya.

Ilmuku yang bermanfaatkah? Sepertinya sangat sedikit sekali aku memberikan ilmu pada yang lain.
Amal jariahkah??? Sepertinya lebih banyak dosa jariah yang kuberikan.
Doa anak yang solehkah?? Sayangnya aku belum mempunyai anak.
Sungguh, semakin ia menghilang dan semakin berkurangnya. Aku semakin takut dan khawatir.
Bolehkan kubertanya padamu kawan, untuk yang terakhir kalinya?
Maukah engkau membimbingku ke jalan yang benar?
Maukah engkau mengingatkanku agar tetap istiqomah?
Maukah engaku menjadi penyemangat di rendahnya imanku?
Maukah engkau menemaniku dalam keadaan lapang dan sempit?

Hanya itu mungkin yang bisa kutanyakan, karena mungkin engkau terlalu jengah menjawab pertanyaanku sedari tadi.
Pintaku.
Semoga kau tak pernah jengah berkawan dengan orang sepertiku.
Maukah???



Warnet Maharani, 12 Juni 2011
Di sudut yang sempit dan terkucilkan
Teruntuk Sahabatku……

Rabu, 18 Mei 2011

Satu Setengah Jam Bersama SANG MUROBBI

Kawasan Jalan Soeprapto pada sore itu sangat ramai. Terlihat angkutan umum berjejer di jalanan mencari penumpang. Ada yang berhenti di depan Telkom Simpang Lima, Queen Foto, toko Enggano hanya untuk menunggu penumpang yang ingin pulang atau pegi ketempat kerja.

Peluh keringat yang keluar dari badan ini tidak membuat aku lelah untuk melaksanakan kewajiban sholat ashar. Suara adzan mulai berkumandang ditengah hiruk pikuk keramaian aktivitas manusia. Segera ku menuju Masjid Muhammdiyah Soeprapto untuk memenuhi panggilan Allah karena Allah telah menyiapkan hidangan yang lezat bagi ruhani yang kelaparan ini.

Teringat sebuah pesan yang aku kirimkan kepada Ustadz Arifin Ilham, “Ustadz, bolehkah ana bertemu sama ustadz di Bandara Fatmawati Bengkulu? Karena ana ingin sekali bertemu dan berjumpa sama ustadz”. Beliau pun membalas pesan saya, ”Insya Allah….hari rabu jam 18.00, kita akan bertemu”.

Aku mengetahui bahwa ustadz Arifin Ilham mau ke Bengkulu karena beliau menulis status di Facebook akan mengisi Zikir Akbar di Manna Kabupaten Bengkulu Selatan pada tanggal 03 Maret 2011.

Jam menunjukkan pukul 16.20, dari kawasan Soeprapto aku mencari angkot ke terminal Panorama. Di terminal Panorama ini banyak angkot warna putih karena angkot ini jurusannya ke Bandara Fatmawati. Setelah berhenti di dekat Bandara Fatmawati aku segera turun dari angkot dan membayar ongkos sebesar Rp. 2.000,-. Aku menulis  pesan kepada ustadz Arifin Ilham akan datang ke bandara jam 17.00

Dua jam menunggu, pesawat dari Jakarta-Bengkulu belum juga sampai. Jika dilihat di monitor TV bandara, pesawat dari Jakarta akan sampai pada pukul 19.15. Sekarang baru pukul 19.00, ku sms Voety, “Lima belas menit lagi pesawat akan sampai”.
Voety adalah adek tingkat ku di kampus walau beda fakultas dan jurusan. Kalau lihat di FB Voety, ada tulisan Akhwat Lemper (Lembut tetapi Perkasa) artinya jika cowok atau ikhwan yang macam-macam sama beliau, bisa-bisa nanti di ajak BELAGO….v^^v

Pukul 19.17 pesawat dari Jakarta mendarat dengan selamat. Aku menunggu di tempat kedatangan. Banyak orang ingin menjemput keluarganya yang baru pulang dari Jakarta. Ada ibu menggendong anak menunggu sang ayah pulang, istri yang kangen kepada suaminya dan nenek ingin melihat cucu.

Terlihat penumpang keluar dari dalam pesawat. Aku memperhatikan siapa saja yang keluar. Dari jauh ada rombongan yang berpeci warna putih yang berjalan keluar tetapi tidak ke ruang kedatangan seperti penumpang lainnya. Mereka menuju ke arah gedung sebelah kanan. Segera ku bergegas ketempat gedung itu. Mobil-mobil sudah berjajar dihalaman parkir.

Aku menanyakan kepada petugas disana, “Maaf pak, apakah ustadz Arifin Ilham akan datang ke tempat ini”, tanyaku dengan muka agak serius. “Nggak tahu saya mas, coba tanya sama orang yang disana”. Bapak itu menunjukkan kepada saya, orang yang berdiri di depan pintu

Segera ku hampiri bapak yang berpeci putih itu. Saat aku mau naek anak tangga. Keluar lah orang yang selama ini ku nanti-nanti. Baju koko warna putih, kopiah warna putih, memakai sarung warna coklat dan selalu memakai jam di tangan kanan. Beliau adalah Ustadz Muhammad Arifin Ilham, terlihat dari air wajah beliau sifat tawadhu, mata yang penuh  rahmat, senyum yang khas dan suara serak-serak basah yang bisa membuat kita menangis apabila mendengar tausiyah beliau.

“Assalamualaikum, ustadz ini Joni yang kemaren hubungi ustadz lewat sms”, kataku dengan perasaan grogi dan cemas karena baru pertama kali ini aku langsung bertemu sama ustadz Arifin.
“Wa’alaikumsalam, akhi sudah lama menunggu ustadz disini ya”, dengan perkataan halus  dam lembut, beliau berbicara sama aku.
“Ya ustadz…..”
“Dengan siapa akhi kesini?”
“Sendiri tadz…”
“Kalau begitu ikut ustadz makan malam bersama”

Beliau mengajak saya makan malam bersama rombongan. Ya Allah, begitu banyak Engkau memberikan pertolongan kepada hambaMu ini tetapi kami jarang mensyukuri nikmat yang Engkau berikan selama ini.

Ada perasaan senang campur bahagia karena bisa berjumpa sama ustadz Arifin. Beliau dari Jakarta bersama rombongan yaitu Ustadz Ahmad dan Bang Erik (Bang Erik ini nggak mau dipanggil ustadz). Ustadz Ahmad adalah sahabat ustadz Arifin Ilham sedangkan bang Erik adalah yang mengurusi bagian IT di Az-Zikra.

Perjalanan dari Bandara Fatmawati menuju Rumah  Makan Tanjung Karang memakan waktu ± 15 menit. Saya naik mobil yang ke-3 sedangkan ustadz Arifin dan rombongan naik mobil pertama dan ke-2. Ustadz Arifin dijemput oleh rombongan pegawai pemerintahan Kabupaten Bengkulu selatan sekitar 8 orang.

Rumah makan Tanjung Karang merupakan rumah makan yang teletak di kawasan Tanah Patah. Menu yang disediakan beraneka ragam, ada bebek panggang, ayam, ikan, daging dan masih banyak lagi. Ownernya adalah pak Dedi, beliau adalah tetangga saya yang dulu pernah tinggal di dekat rumah saya. Beliau merintis usaha ini sejak lama. Seingat saya, beliau dulu membuka warung nasi uduk di dekat Bank Indonesia Kampung Cina. Setelah usahanya sukses, beliau membeli rumah di Tanah Patah dan membuka warung makan yang lebih besar lagi.

Jam menunjukkan pukul 19.40, adzan isya sudah berkumandang. Mobil terus melaju menuju rumah makan. Setelah sampai, aku keluar dari mobil. Terlihat usradz Arifin masih di dalam mobil sedang mengobrol sama ustadz Ahmad dan bang Erik. Ada seorang pegawai pemerintah yang selalu menemani ustadz Arifin. Cirri-cirinya berkumis agak tebal, peci putih, baju koko warna putih dan memakai celana jeans warna coklat. Nampaknya beliau seorang pejabat yang mempunyai kedudukan di pemerintahan.

“Apakah kamu wartawan?”, tanya beliau kepada ku.
“Saya bukan wartawan pak, saya hanya ingin bertemu sama ustadz Arifin. Saya sudah menghubungi beliau lewat sms”.
Dengan muka agak marah beliau mengatakan, “ Maaf, ustadz Arifin tidak boleh di ganggu”.

Memang sih saya bukan apa-apa. Saya tidak mempunyai kedudukan, saya hanyalah  hamba Allah yang ingin bertemu sama orang-orang sholeh. Allah tidak memandang pangkat, jabatan, harta atau kedudukan. Allah hanya memandang hambaNya dari kacamata keimanan. Walau orang itu orang miskin, melarat hidupnya tetapi kalau setiap malam melakukan qiyamul lail maka Allah akan naekkan derajat disisiNya.

Setelah keluar dari mobil, ustadz Arifin segera masuk ke rumah makan.
“Ayo akhi…kita makan bersama-sama di dalam”, dengan senyumanya yang khas yang keluar dari hati yang ikhlas.
“Ya ustadz….”, jawab ku dengan agak malu

 Setelah berada di dalam, hidangan pun sudah disediakan. Ada ikan gurami, ikan patin, bebek goreng, pecel lele dan lain-lain. Kami duduk ditempat lesehan. Beliau makan mengikuti sunnah nabi. Kaki kanan ditegakkan dan sedangkan kaki kiri dilipatkan,

“Bismillahirrahmanirrahim……...”

Kami pun makan bersama. Sebelah kiri ku ada ustadz Ahmad, sebelah kanan ku ada bang Erik dan di depan ku ada ustadz Arifin bersama pejabat. Ustadz Arifin suka sekali sama makanan pecel lele, saya membaca buku Suamiku Menangis yang ditulis oleh istri beliau. Didalam buku itu diceritakan bahwa ustadz Arifin suka sama bubur ayam dan pecel lele.

Setelah itu bang Erik bertanya kepadaku, ”Abang kuliah dimana?”, bang Erik memanggil saya dengan sebutan “Abang” padahal beliau lebih tua dari aku 9 tahun.

“Bang, jangan memanggil ana dengan sebutan Abang. Panggil Joni aja ya bang”, jawab ku dengan malu-malu.
“Ana kuliah di Universitas Bengkulu, ngambil jurusan Pertanian, kalau abang sendiri kerja dimana”, tanya ku
“Saya kerja sama ustadz Arifin, bang…!! Saya dulu ikut jamaah zikir ustadz Arifin kemudian beliau mengajak saya untuk membantu beliau di bagian IT.”, dengan nada sopan dan lembut beliau menjawab.

Bang Erik ini adalah seorang atlet bulutangkis. Kalau saya lihat di FB beliau, beliau hobi maen bulutangkis. Bang Erik ini memiliki jenggot yang panjang dan tebal dan kumisnya nggak ada karena mengikuti sunnah rasul.

“Kok badan abang kurus. Apa abang sakit?”, tanya beliau
Dengan suara agak berat saya menjawab, “Memang dari dulu badan ana kayak ini bang…kurus!! Dan sekarang ana lagi sakit…………..”

Kemudian bang Erik memesan minuman mineral, “Coba abang minta di doakan sama ustadz Arifin. Mudah-mudahan Allah menyembukan sakit abang”.

“Ya bang…”, jawab ku

Setelah selesai makan, ustadz Arifin membacakan doa pada air mineral tersebut. Orang-orang yang dekat sama Allah, biasanya doanya  mustajab. Dan Rasulullah sendiri mengajarkan kepada kita untuk membacakan surah Al Fatihah  pada segelas air untuk orang yang sakit.

Selesai membacakan doa, kami segera melakukan sholat isya berjamaah. Karena rombongan ustadz Arifin melakukan perjalanan jauh atau safar, maka sholatnya di jamak dan qasar kan. Sholat isya empat rakaat menjadi dua rakaat dan sholat magrhib tetap tiga rakaat.

Ustadz Arifin yang menjadi imam sedangkan aku, ustadz Ahmad dan bang Erik menjadi makmum. Aku bertanya dalam hati, “Kemana para pejabat dan pegawai yang menjemput ustadz Arifin ya, kok nggak sholat padahal mereka yang menjemput ustadz di bandara.” Aku tidak ingin berburuk sangka kepada orang, aku mendoakan setelah mengikuti zikir akbar di Manna, para pejabat dan pegawai pemerintahan setempat bisa menjadi pribadi yang lebih baek lagi termasuk saya, mencoba untuk memperbaeki diri.

Setelah sholat, ustadz Arifin nampaknya mau bergegas berangkat karena di Manna banyak yang menunggu beliau.
“Ustadz, sebelum berangkat bolekah ana foto berdua dengan ustadz?”, tanya ku dengan perasaan harap-harap cemas.

Dengan senyumannya beliau menjawab, “Silakan akhi, tetapi agak cepat ya”

“Ya ustadz….”

Aku keluarkan HP ku dari kantong celana, kemudian aku minta tolong sama ustadz Ahmad untuk memfotokan kami berdua.

Alhamdulillah, akhirnya ada juga kenang-kenangan dari beliau yaitu foto saya sama ustadz Arifin Ilham walau hasilnya kurang memuaskan karena pencahayaan kamera HP saya tidak terlalu bagus untuk kondisi malam hari.

Rombongan pun bergegas keluar dari rumah makan menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Aku sendiri hanya bisa melihat ustadz Arifin dari luar saat rombongan masuk ke dalam mobil dan siap-siap menuju Manna. Beliau berbicara kepada saya waktu di bandara, “Salam sama keluarga akhi ya”. Itulah pesan beliau kepada saya.

Setiap orang mempunyai mimpi masing-masing. Ada yang ingin sukses, bisa pergi ke luar negeri atau menaekkan haji orang tua. Mimpi saya salah satu yang sudah terwujud adalah bisa bertemu Sang Murobbi Ayahanda Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Walau dibutuhkan waktu agak lama dan proses yang sangat panjang tetapi akhirnya bisa terwujud juga.


MAN JADDA WA JADAH……..Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons